Ciliwung, Ruang Publik yang Ditinggalkan

clwngRoman kelegaan Sutisna mendadak pudar, mulutnya mendendam geram, tergumam antara marah dan kasihan. Kenikmatan memancing di Ciliwung bawah jembatan Jalak Harupat, Sempur Bogor, sore itu harus terganggu lantaran terlihat muda-mudi penikmat taman persis di sempadan dengan mudahnya membuang sampah ke tengah sungai.

“Niat mau rilek nikmati aliran Sungai Ciliwung yang jernih jadi nggak asyik. Membuang sampah pada tempatnya harusnya mudah dilakukan, kenapa harus ke sungai,” tulisnya di akun media social.

Sutisna pantas kesal, sebagai sesama penikmat ruang terbuka dia merasa berhak menikmati sungai sebagai situs ruang hidup siklus hidrologis sumber kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Apalagi jejak Ciliwung cukup kental nilai historisnya.

Saat Pajajaran (1482-1567) masih berdiri sebagai kerajaan Hindu terakhir di pulau Jawa. Banten memerlukan waktu 40 tahun lebih untuk bisa masuk ke ibukota Pakuan, pusat wilayah Pajajaran. Benteng alam pegunungan dan dua sungai besar, (Ciliwung-Cisadane) menjadi alasan kuatnya pertahanan Pajajaran. Ekspedisi Kapiten Adolf Winkler (1690) membuktikan letak ibukota Pakuan diantara dua sungai besar ini.

Romantisme Ciliwung Bogor diceritakan dibanyak riwayat sebagai sungai dengan bentang alam yang indah dan kualitas air yang baik. Namun setelahnya perlahan-lahan peran penting Ciliwung mulai terancam dengan banyaknya pencemaran lingkungan, baik oleh kegiatan industri maupun rumah tangga. Beragam jenis sampah dengan mudah bisa ditemui, mulai dari sampah anorganik seperti plastik dan sejenisnya, bergabung dengan sampah kaleng, Styrofoam, furniture rusak, ban bekas, mainan rusak, baju-baju bekas, sampai dengan limbah elektronik seperti monitor bekas.

Sayang sekali, saat ini sangat sulit menemukan bagian Ciliwung dimana kita bisa bebas bermain di dalamnya.  Anak-anak kekinian telah dipisahkan dari Ciliwung karena ulah manusia dewasa lainnya.  Ciliwung dijadikan tempat sampah dan selokan raksasa yang mengalirkan limbah. Hal ihwal rusanya ekosistem Ciliwung berawal dari  hilangnya pagar sungai yaitu ekosistem riparian.  Hilangnya pembatas alami telah menyebabkan asupan materi tidak berguna masuk ke dalam sungai.

Seluruh pembangunan berorientasi pada jalan dan membelakangi sungai. Sungai dianggap sebagai muka belakang tempat membuang berbagai macam kotoran. Sungai tidak lagi dianggap sebagai sumber air bersih yang memberikan suplay air minum setiap harinya.

Kota Bogor sejatinya telah memiliki perangkat perlindungan sungai. Selain Perda Nomor 8 Tahun 2011, perlindungan kawasan sungai juga terakomodir melalui Perda Nomor 15 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air, khususnya pasal 30 sampai 34. Pasal ini mengatur pemanfaat sumber daya air terkait air permukaan dan ketentuan Garis Sempadan Sungai. Peraturan ini berusaha menjelaskan bahwa keterlibatan partisipasi masyarakat yang paling nyata adalah gerakan peduli sungai dan pencegahan pencemaran sungai yang dilakukan oleh masyarakat.

Muhammad Muslich seorang penggiat di Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) pada 2014 melakukan penelitian tumbuhan di sepanjang Cilwung mulai dari Katulampa di Kota Bogor sampai dengan Pasir Gunung Selatan di Kota Depok. Aksinya berhasil mencatat adanya 105 spesies tumbuhan dari 36 famili. Berbagai spesies bambu mendominasi tutupan riparian yang masih alami misalnya di sepanjang Bojong Gede sampai dengan Depok.

“Rata-rata lebar wilayah bervegetasi di sepanjang areal penelitian tersebut 30,71 meter di kanan dan kiri sungai. Hal ini memberikan asa di Ciliwung untuk mempertahankan wilayah alami di pinggri sungai,” paparnya.

Sebuah asa yang patut diterima sebagai kemewahan meski geliat properti mengokupasi. Asa tersebut patut dijemput dengan mengembalikan sungai sebagai ruang publik yang dapat diakses dengan aman dan nyaman, sehingga masyarakat dapat menikmati, memelajari, mengapresiasi, dan menghargai sungai dengan semestinya. Sungai harus dipandang sebagai sistem ekologi yang menjadi bagian dari bentang alam kota.  Dengan demikian, pembangunan wilayah harus memperhatikan dampak terhadap ekosistem sungai.

Ciliwung merupakan kekayaan alam titipan Tuhan yang memberi manfaat besar pada manusia baik secara ekologi, ekonomi, edukasi dan kehidupan sosial masyarakat. Mengutip slogan KPC, Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s