Menerka Wisata Kota

12321633_10207041552028487_7044781849290889465_nDalam laporan pertanggung jawaban pada April 2015 silam, Walikota Bima Arya dengan bangga menyebut kenaikan 10,5 persen jumlah wisatawan yang berkunjung pada 2014. Tahun itu Kota Bogor mencatat sebanyak 4.350.930 wisatawan yang terdiri dari 4.148.650 domestik dan 202.280 mancanegara. Catatan ini seperti meneruskan hasil World Economic Forum in Geneva, Switzerland (2009), dimana pariwisata Indonesia berada pada peringkat 81 di dunia. Sementara UN-WTO pada tahun yang sama juga mengungkapkan terjadinya peningkatan jumlah kunjungan wisatawan internasional sebesar 1.4% (2008-2009) dengan pendapatan 6.318 milyar dollar Amerika pada Tahun 2009.

Sebuah catatan yang menarik untuk kota yang berjarak hanya  ± 60 km dengan Jakarta dibagian utara dan ± 180 km dengan Ibukota Provinsi Jawa Barat, Bandung. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 26/2007 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), Kota Bogor ditetapkan sebagai kawasan andalan pariwisata bersama Puncak (Kabupaten Bogor) dan Cianjur. Sudah sepantasnya pengembangan pembangunan sektor pariwisata dilaksanakan secara optimal dalam kontribusinya kepada lingkungan, sosial, ekonomi dan budaya, khususnya terhadap seluruh masyarakat di Indonesia supaya dapat merasakan manfaat dari pembangunan yang dilaksanakan.

Kota ini mengaku sedang dan terus berbenah menata wisatanya, saat dimana sasaran pengembangunan berkutat pada peningkatan seluruh potensi pariwisata, peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, peningkatan lama tinggal, penyerapan angkatan kerja secara maksimal, serta peningkatan kontribusi pada PAD dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu upayanya adalah menyediakan fasilitas dan mengembangkan obyek daya tarik wisata (ODTW) bersama kalangan pengusaha jasa wisata di Kota Bogor.

Hingga hari ini potensi wisata yang dimiliki Kota Bogor masih mendasarkan pada pada sumberdaya alam (natural resources) dan sumberdaya kebudayaan dan manusia sebagai pelaku pariwisata (Anatomi Wisata, Soekadijo, 2000). Daya tarik wisata merupakan suatu yang menjadi faktor yang menyebabkan wisatawan datang mengunjungi sebuah tempat atau daerah, selain tambahan dukungan fasilitas, transportasi, dan pelayanan pariwisata lain yang berada di kota ini.

Beberapa destinasi pariwisata yang menjadi daya tarik wisatawan diantaranya, Istana Presiden, Kebun Raya Bogor, Museum Zoologi, Museum Ethnobotani, Museum Pembela Tanah Air dan Situ Gede. Distribusi lokasi destinasi pariwisata tersebut berada disekitar Istana Presiden dan Kebun Raya, pusat pelayanan publik serta pemerintahan Kota Bogor. Dalam direktori pariwisata yang dirilis http://direktori.kotabogor.go.id/ menyebutkan 8 kategori destinasi wisata kota, yaitu wisata alam, wisata hiburan, wisata kuliner, wisata belanja, wisata cinderamata, wisata hotel dan wisata Travel Agent.

Dokumen RTRW Kota Bogor 2011-2031 juga menandai jenis kegiatan pariwisata yang diunggulkan untuk dikembangkan adalah wisata IPTEK, heritage, wisata kuliner, belanja dan rekreasi ruang terbuka. Khusus wisata kuliner dan belanja pengembangan akan dipusatkan di kawasan Bogor lama dan Tajur. Lebih jauh Bogor juga akan mengembangkan pariwisata MICE dan ekoturisme di wilayah Bubulak dan Tajur.

Terbaru, Urban Ecotouism sempat mengemuka menjadi usulan konsep besar wisata Kota Bogor. DPRD Kota melalui Panitia Khusus (Pansus) Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Kota Bogor, sempat menggelar Rapat Dengar Pendapat untuk meminta masukan publik pada 1 Februari 2016. Sayangnya pembahasannya tertunda dan belum pemberitahuan kapan dilanjutkan.

Ekoturisme dan inti pengembangan wisata kota

Kota merupakan jenis destinasi pariwisata yang paling penting di dunia sejak tahun 1980-an. Sebagai fenomena kepariwisataan dunia, kota dipandang sebagai suatu proses kompleks yang terkait dengan budaya, gaya hidup, dan sekumpulan permintaan yang berbeda terhadap liburan dan perjalanan (Christopher M. Law, Tourism in Major Cities,1995: 1).

Orang mengunjungi suatu kota umumnya memiliki beragam tujuan, seringkali mereka mengunjungi kota untuk lebih dari satu alasan. Katakanlah orang yang pergi ke untuk urusan bisnis, umumnya mencari referensi untuk menyempatkan diri mengunjungi tempat rehat atau galeri seni di kota yang dikunjunginya. Atau mereka yang dari luar negeri (wisatawan mancanegara) mengunjungi dan berwisata di kota tertentu sebagai pintu gerbang untuk mengunjungi daerah lain di sekitarnya.

Pariwisata perkotaan memiliki karakteristik lain yang khas, berbeda dengan pariwisata pada umumnya yang daya tarik wisatawanya memang ditujukan hanya untuk mereka yang berwisata. Wisatawan perkotaan menggunakan fasilitas perkotaan yang juga digunakan oleh penduduk kota sebagai daya tarik wisatanya.

Tahun 2000 pariwisata menjadi motivasi penting bagi revitalisasi kota pada masa itu. Dengan bangkitnya kembali kota-kota di dunia, masyarakat menjadi makmur, dan muncul kelompok menengah yang memacu peningkatan permintaan akan pariwisata dan rekreasi, baik domestik maupun antar negara. Kota besar yang memiliki berbagai daya tarik berupa peninggalan sejarah atau berbagai proyek baru menjadi sasaran kunjungan masyarakat negara maju, di samping kunjungan ke kawasan wisata di lokasi khusus seperti pantai dan pegunungan.

Urban ecotourism (ekowisata kota) merupakan konsep pariwisata perkotaan yang berwawasan lingkungan. Konferensi Internasional tentang Urban Ecotourism pada tahun 2004 menghasilkan deklarasi tentang urban ecotourism. Isi deklarasi tersebut menyatakan bahwa urban ecotourism dikembangkan untuk memulihkan dan mengkonservasi warisan alam dan budaya, termasuk lanskap alam dan keanekaragaman hayati dan juga budaya asli. Memaksimalkan manfaat lokal dan melibatkan masyarakat kota sebagai pemilik, investor, tamu, dan pemandu. Memberikan pembelajaran kepada pengunjung dan penduduk tentang lingkungan, sumber daya heritage, serta keberlanjutan. Terakhir, mengurangi jejak ekologis.

Insan Kurnia, S.Hut., MSi pengajar pada Program Diploma Ekowisata IPB menegaskan bahwa Ekowisata merupakan ‘jiwa’ dari wisata itu sendiri, tak terbatas pada wisata alam. Menurutnya konsep ekowisata haruslah memenuhi 3 pilar, yaitu : ekologi, ekonomi dan sosial budaya. Produknya bisa bermacam-macam, kita kemudian mengenal wisata budaya, wisata kota, wisata kampung, wisata kuliner, wisata religi, wisata spiritual dan bentuk lainnya.

Wisata adalah kegiatan atau perjalanan, tidak terbatas pada rekreasi. Artinya ketika wisata bisa diimplementasikan pada semua aspek, semua sumberdaya apapun bisa menjadi kegiatan ekowisata.“Ekowisata Kota adalah ekowisata yang memanfaatkan sumber daya yang ada di kota, esperti ke-khasan perkotaan dengan budaya dan modernitasnya”.

Insan juga mencontohkan bagaimana kegiatan event kota memiliki peran menciptakan ikon kota yang mendukung kegiatan wisatanya. Bogor sudah memiliki beberapa diantaranya semisal Cap Go Meh, event musik, olah raga dan atraksi wisata lainnya. Apa yang disebutkan pertama terbukti mampu menjadi ikon akulturasi dan pluralisme yang diakui secara nasional, bahkan internasional.

Kota Bogor sudah punya modal, data peningkatan kunjungan yang disampaikan Bima Arya pun bisa dirasakan. Tinggal bagaimana memaksimalkan kunjungan tersebut dari sisi positif untuk menunjang pengembangan wisatanya. RIPPDA memang belum nampak seperti apa dan bagaimananya, namun arahnya sudah bisa ditebak, yaitu Ecoturisme. Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Bogor melalui ketuanya Bagus Karyanegara, menegaskan ecoturism sebagai arah pengembangan wisata kota Bogor.

Kota dengan populasi penduduk 949,066 (BPS Kota Bogor, 2010) ini bisa mulai menggarap serius event budayanya, memulai dari apa yang diunggulkan lima wilayah di Kecamatan Tanah Sareal, Bogor Utara, Selatan, Barat, Timur, dan Bogor Tengah.

Pengembangan wisata kota harus dikaitkan dengan pengembangan wilayah. Ketika penataannya bagus untuk masyarakat turisme akan mengikuti. Misalnya kawasan Stasiun dan sekitarnya, penataannya bisa terus dilakukan untuk mendukun kawasan ramah turisme dengan melengkapi layanan dasar yang humanis. Atau di Bogor Barat dengan Situgede-nya yang berpotensi diwujudkan atraksi wisata air tanpa melepaskan fungsi utama situ bagi wilayah sekitarnya.

Ekoturisme menjadi pijakan utama, sumberdayanya akan mengikuti. Urban Ecoturism di Kota Bogor sangat memungkinkan dikembangkan. Bogor sudah dikenal, jika dulu yang terkenal hanya Puncak, kini sudah bergeser kearah Bogor Barat, artinya pendatang banyak kenapa tidak memanfaatkan kunjungan itu, tidak hanya sebagai jalur tapi sebagai destinasi.

Destinasi tidak harus lokasi yang luar biasa dan melulu konsep investasi. Bisa dipilah mana pengembangan untuk investor dan mana untuk publik. Kuncinya ada yang dilihat, dirasakan dan dinikmati kehidupannya maupun lingkungannya.

Meski demikian Insan Kurnia mengingatkan bahwa konsep dasar dalam ekoturisme masyarakat bukanlah objek, tetapi subjek yang harus didudukan sebagai pelaku. “Ketika kita membangun jalan jangan jalan ini dibangun untuk wisatawan, tetapi jalan ini dibangun untuk masyarakat. Jadi ketika kita bicara pemberdayaan dan kita membangun masyarakat, sejatinya kita sedang membangun potensi turisme”.

Ekoturisme juga jangan dilihat sebagai sesuatu yang dangkal, tidak semata dimaknai mencari pendapatan dari retribusi atau tiket. Yang perlu dipikirkan dan digerakan adalah efek domino ketika destinasi mulai mendapat tempat di masyarakat, masa dimana pergerakan atau proses perjalanannya menjadikan destinasi lebih hidup. Ada pembauran antara masyarakat dengan wisatawan, sementara PAD bisa diarahkan daya dukung sekitar.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s