2 Tahun Rebo Nyunda di Kota Bogor

Sejak 2014 silam, Kota Bogor ramai program Rebo Nyunda. Program yang digagas sejumlah seniman dan  budayawan Bogor. Mereka mendeklarasikannya bertepatan dengan  peringatan Hari Pendidikan  Nasional 2 Mei  2014 lalu di Lapangan Sempur. “Rebo Nyunda” gagasannya sederhana namun penuh makna yakni membiasakan berbahasa sunda dan pakaian adat Sunda setiap hari Rabu.

“Saat itu kami berpikir untuk meningkatkan eksistensi budaya Kota Bogor bisa dilakukan dengan Sapoe Urang Nyunda,” papar Ki Wahyu, tokoh yang terlibat deklarasi Rebo Nyunda

Gayung-pun bersambut begitu Walikota Bima Arya merilis Surat Edaran Wali Kota nomor 025/3066-org, tentang penggunaan pakaian dinas pegawai di lingkungan Pemkot Bogor, tanggal 23 Oktober 2014. Sejak saat itu hingga 2 tahun surat edaran berlaku, setiap hari Rabu pegawai dilingkungan pemkot kompak berbaju kampret dan menggunakan ikat kepala ‘totopong’.

Sejak dicanangkan dan disosialisasikan ke masyarakat hingga ke sekolah-sekolah, Rebo Nyunda seakan menjadi piranti kembali ke jatidiri Kota Bogor. Tidak hanya berpenampilan adat Sunda, hal terpenting adalah bagaimana nilai-nilai luhur budaya Sunda dapat tertanam di dalam diri pemakainya.

Rebo Nyunda sejatinya sudah dirintis sejak 2010 dan baru mendapat respon positif pemkot pada 2014. Saat itu dimotori Dadang H. Padmadiredja, Tjetjep Toriq dan Adi Kurnia (almarhum), tiga tokoh seniman dan budayawan yang kemudian berhimpun kedalam Sentradaksa, lembaga kebudayaan yang serius bicara pelestarian seni budaya dan kajian sejarah kota Bogor. Program Rebo Nyunda diharapkan bisa mengingatkan dan mewaspadai gejala ‘lupa’ budaya Sunda di masyarakat.

“Kecenderungan memudarnya semangat menggunakan kesenian Sunda sudah terlihat dari jarangnya masyarakat menggunakan Bahasa Sunda dalam pergaulan sehari–hari. Dengan adanya Rebo Nyunda, Pemkot Bogor  bisa melakukan pendekatan mulai dari dunia pendidikan dan kebudayaan serta pariwisata untuk melestarikannya,” tegas Tjetjep kala itu.

Sebagaimana ide awal, Rebo Nyunda bertujuan untuk melestarikan kebudayaan Sunda. Tidak hanya memakai pakaian adat Sunda, tetapi juga penggunaan bahasa Sunda dalam berbagai kegiatan. Termasuk bagaimana menerapkan prinsip, ‘silih asah silih asih silih asuh’.

Kegiatan Rebo Nyunda hingga kini masih bertahan, bahkan tidak hanya kalangan pemkot saja yang mewajibkan. Beberapa sekolah dan swasta ditengarai juga menerapkan hal serupa. Bahkan turunan dari kegiatan Rebo Nyunda juga diterjemahkan Dinas Pendidikan dengan menggelar program “Ngabogor” untuk pelajar.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi kreatif Kota Bogor, Sahlan Rasjidi mengatakan, selama 2 tahun berjalan Rebo Nyunda menjadi gerakan cinta Sunda Bogor.

Meski hanya dijalankan satu Minggu sekali Rebo Nyunda sudah mulai dirasakan dimana masyarakat mulai terbiasa dengan identitas dan tampilan adat Sunda. Kalangan pelajar sudah mulai menerapkan bahasa Sunda, meskipun belum signifikan. Setidaknya menjawab kekhawatiran pudarnya bahasa Sunda dikalangan pelajar.

“Sebagai panutan, aparatur pemkot musti jadi contoh dengan tata karma kesundaannya. Kita sebagai aparatur membiasakan berbahasa sunda yang baik, dan berpakian sunda. Program ini kemudian juga ditiru swasta,” terang Sahlan.

Pakaian adat yang digunakan untuk laki-laki kita kenal ‘kampret’, baju berlengan tigaperempat, tanpa kerah dan tidak harus warna hitam. Untuk Celananya ada jenis pangsi (lebar) dan komprang di atas mata kaki, ukuran panjangnya sontog sampai betis. Totopong ada jenis parekos nangka, totokong (runcing kedepan), barangbang sempak, julang ngapak (untuk lengser) dan sebagainya. Sementara pakaian perempuannya memakai kebaya khas sunda.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s