Ke Jambi dan Asap yang Terbiasa

sungai-jambatSenin pagi di bulan November, satu lembar boarding pass bertanggal 3 November 2014 mengarahkan saya menuju terminal F2 Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Hari itu saya terjadwal ikut dalam penerbangan Garuda ke Jambi bersama rekan saya atas sebuah lembaga berpusat di Bogor tempat aktivitas saya setahun belakangan ini. Mulanya semua berjalan normal, kami menyamankan diri menunggu panggilan masuk ke pesawat. Hingga pemberitahuan bahwa penerbangan ditunda 2 jam kedepan karena Jambi diliputi asap dan tak mungkin dilakukan penerbangan.

Perasaan saya sudah tidak enak, tertunda penerbangan asap tidak mungkin dalam waktu 1-2 jam, bisa lebih bahkan dibatalkan. Sejenak teringat peristiwa Maret 2014 lalu, dalam suatu kunjungan ke Jambi dan ditutupnya Bandara karena asap pekat. Saya pikir kasus asap sudah selesai setelah ganti presiden Jokowi. Lagi pula tidak ada media yang menampilkan headline soal asap Jambi dalam beberapa hari terakhir.

Benar dugaan saya, kami yang seharusnya terbang pukul 05.25 baru bisa dipastikan terbang pukul 11.30 WIB, 6 jam dari jadwal seharusnya.

Kabut asap yang terjadi di Indonesia (Kalimantan dan Sumatra) sudah rutin saya ketahui dikabarkan sejak 1996. Saya yang tinggal di Jawa hanya mengetahui dan tak pernah merasakan langsung terpapar asap hingga 2014 lalu. Asap baru benar-benar diramaikan dan menjadi isu besar (bencana) setelah kawan-kawan aktivis Riau menyuarakan Darurat Asap dari kota Pekanbaru.

Di Jambi, saya tidak mendengar suara keras protes tentang asap ini. Hampir semua yang saya tanya menganggap ini biasa, pun termasuk bandara yang ditutup. Apakah masyarakat sudah menganggapnya biasa atau asap ini sudah jadi bagian dari kehidupan masyarakat Jambi dan Sumatra ?.

“Ah biasalah asap di Jambi ini, sebelumnya lebih parah,” kata Novrizal, penjemput kami di Bandara Sultan Thaha.

Jawaban pertanyaan itu kemudian saya temukan ketida berada di wilayah Kecamatan Sadu, tepatnya di Sungai Jambat. Lokasi ini harus kami tempuh 7 jam dari kota Jambi. Tiba di Sungai Jambat asap pekat membuat mata saya pedih dan pusing. Sempat khawatir saya tidak bisa mempertahankan kondisi badan karena dampak asap ini.

Esok harinya suasana berubah seperti tak terjadi apa apa. Asap sudah tidak terasa dan saya bisa melakukan kegiatan di Sungai Jambat dengan lancar. Sampai kemudian terkejut dengan jawaban atas pertanyaan saya sendiri.

“Wah…disini sudah aman dari asap ya, saya tak merasa sesak kayak kemarin. Asap sudah hilang kan..!?”, Tanya saya pada bang Okek (35). Tokoh pemuda Sungai Jambat yang menemani saya jalan-jalan ke Dermaga Sungai Jambat.

“Ini parah pak…kalau tak berasap pulau ditengah itu terlihat dari dermaga sini,” jelasnya.

Lebih parah !? peryataan yang membuat sangat terkejut. Sama terkejutnya ketika saya saksikan sebuah speedboat yang tiba-tiba muncul dari tengah laut yang gelap (saya pikir mendung), tanpa saya ketahui asal-muasalnya. Jika lebih parah kenapa saya tidak merasakannya ?. Apa saya sudah beradaptasi hingga tak melihat asap sebagai masalah ?.

Sepertinya saya sedang dalam tahap menjadi orang yang terbiasa terpapar asap. Dalam waktu 2 hari asap itu sudah biasa. Tak ada kemarahan terpapar asap, bahkan saya mulai acuh dan mengganggap selama masih bisa beraktifitas, asap tak jadi soal.

Mungkin ini jawaban kenapa di Jambi tak ada yang teriak soal pekatnya asap. Bahaya asap tak menjadi isu besar di propinsi ini, setidaknya saya tak melihat orang menggunakan masker atau ada kampanye, spanduk besar tentang asap. Asap yang ambigu.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s